Motif Batik Parang merupakan salah satu motif paling tua di Indonesia. Kata Parang berasal dari Pereng atau lereng atau tebing yang memiliki bentuk garis diagonal sebagaimana yang ada dalam motif batik ini.

Dalam setiap motif batik Parang biasanya akan terdapat susunan motif yang membentuk seperti huruf S, saling terkait satu dengan lainnya, saling menjalin dan ini melambangkan sebuah kesinambungan. Bentuk huruf S tersebut diadaptasi dari bentuk ombat lautan, menggambarkans emangat yang tidak pernah padam.

Motif batik Parang merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo). Diciptakan oleh pendiri Keraton Mataram, sehingga motif ini menjadi pedoman utama dalam menentukan derajat kebangsawanan seseorang. Bahkan pada jaman dulu motif parang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya.

Hingga saat ini Motif parang telah mengalami banyak perkembangan dan modifikasi. Ratusan bahkan ribuan motif baru bermunculan sehingga dapat memperkaya perbendaharaan motif batik di Indonesia. Beberapa motif batik Parang yang paling populer di antara misalnya Parang rusak Barong, Parang Kusumo, Parang klithik, Lereng, Sobrah dan lain-lain.

Saat ini Batik Parang telah mengalami perkembangan dan muncul dalam berbagai motif yang berbeda namun tetap mencirikan motif batik parang. Beberapa jenis-jenis Batik Parang tersebut yaitu:

  1. Motif Parang Rusak Barong. Motif Batik ini berasal dari kata batu karang dan barong (singa). Parang barong merupakan parang yang paling besar dan agung, karena kesakralan filosofinya, motif ini hanya boleh digunakan untuk raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwa sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti suaatu yanag besar dan ini tercemin pada besarnya ukuran motif tersebutĀ  pada kain. Motif parang rusak barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
  2. Parang Klitik. Motif ini merupakan pola parang dengan stilasi yang halus. Ukurannya pun lebih kecil dan juga menggambarkan citra feminim. Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya digunakan oleh para puteri raja.
  3. Parang Kusuma. Motif ini mengandung makna hidup harus dilandasari oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batik, yang diibaratkan sebagai keharuman bunga (kusuma). Bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama dicari adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan satun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batik. Walaupun sulit untuk direalisasikan, namun umumnya orang Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir dan batin.

Itu lah beberapa makna serta filosofi Batik Parang yang saat ini telah banyak digunakan oleh masyarakat luas.

Sumber:

  1. Infobatik.id
  2. goodnewsfromindonesia.id

Selain itu kami juga mengadakan workshop membatik di jakarta, yuk kepoin website kaintradisional.com atau hubungi WA (Devy 0813-1896-0500) tentang workshop membatik

(Visited 33 times, 2 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *